Berpegang Teguh Kepada As sunnah 4

image

Adapun penyebutan hal ini (tentang keharusan berpegang teguh kepada Sunnah Rasul dan al-Khulafaur Rasyidun) setelah perintah loyal (as-sam'u waththâ'ah) kepada para pemimpin/umara' mengisyaratkan bahwa tiada keta'atan terhadap mereka kecuali selama mereka mengajak berbuat ta'at kepada Allah, sebagaimana dalam hadits yang shahih dikatakan dalam sabda beliau : "Sesungguhnya keta'atan hanya berlaku dalam berbuat ta'at". Dan banyak sekali hadits-hadits lain yang memerintahkan demikian. Dalam kaitannya dengan penggalan hadits diatas, juga dibahas masalah kenapa diperintahkan agar loyal terhadap al-Khulafaur Rasyidun, mengingat banyak sekali hadits-hadits yang menyebutkan keutamaan mereka. Disamping itu, Mushannif juga menyinggung pengertian ar-Rasyid, serta dikategorikannya khalifah Umar bin 'Abdul 'Aziz sebagai khalifah ar-Rasyid kelima. Masalah Ijma' para Khalifah yang Empat sebagai hujjah Masalah ini sebenarnya secara luas dibahas dalam ushul fiqh, namun Mushannif juga menyinggung hal ini. Diantaranya; apakah ijma' mereka dapat dipakai sebagai hujjah meskipun ada diantara shahabat yang lain menyalahi/menentang mereka ?.. Maka dalam hal ini, terdapat dua riwayat dari Imam Ahmad. Begitu juga masalah ; bila sebagian dari mereka berempat mengemukakan pendapat sedangkan yang lainnya tidak menyalahi/menentang mereka tetapi justru shahabat lain yang menentangnya ; manakah yang didahulukan, pendapat sebagian mereka tersebut atau shahabat selain mereka?.. Dalam hal ini juga terdapat dua pendapat ulama; sedangkan Imam Ahmad menyatakan secara tertulis bahwa dia lebih mendahulukan pendapat sebagian dari shahabat yang empat daripada pendapat shahabat selain mereka. Begitu juga, mayoritas Salaf berpendapat demikian, terutama pendapat Umar bin al-Khaththab radhiallahu 'anhu berdasarkan hadits-hadits yang menyebut keutamaan Umar dan ketajaman pendapatnya yang telah terbukti di kemudian hari. Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam : (yang mendapat petunjuk); maksudnya adalah bahwa Allah menunjuki mereka kepada kebenaran dan tidak menyesatkan mereka. Manusia diklasifikasikan kepada tiga : pertama, Râsyid. Kedua, Ghâwin. Ketiga, Dhâllun. Ar- Râsyid artinya orang yang mengetahui kebenaran dan mengikutinya. Al-Ghâwi artinya orang yang mengetahuinya tetapi tidak mengikutinya. Sedangkan adh-Dhâllu artinya orang yang tidak mengetahuinya sama sekali. Jadi, setiap Râsyid sudah pasti Muhtadun (orang yang mendapat hidayah) sementara setiap Muhtadun (orang yang mendapat hidayah) secara sempurna maka dia sudah pasti Râsyid sebab hidayah hanya akan sempurna bilamana mengetahui kebenaran dan mengamalkannya. Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam : (gigitlah dia/sunnahku tersebut dengan gigi geraham). Ungkapan tersebut merupakan kinayah yang maksudnya agar berpegang teguh dan tidak melepaskannya). Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam : (..dan tinggalkanlah oleh kalian urusan-urusan baru (mengada-ada dalam urusan agama) karena sesungguhnya setiap bid'ah itu adalah sesat) Disini, umat diingatkan akan bahaya bid'ah dan diperintahkan agar tidak mengikuti hal-hal yang berbau bid'ah, dengan mempertegasnya bahwa " setiap bid'ah itu adalah sesat". Yang dimaksud dengan bid'ah adalah sesuatu yang diada-adakan (diperbaharui) yang tidak memiliki asal/akar yang mendukungnya dalam syari'at. Sedangkan sesuatu yang memiliki asal/akar yang mendukungnya dalam syara' maka hal itu bukanlah bid'ah, meskipun bisa disebut bid'ah secara lughah/bahasa. Banyak sekali hadits-hadits yang melarang kita melakukan bid'ah dan mengecamnya serta mengancamnya. Diantaranya, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Jabir dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : "sesungguhnya sebaik-baik hadits/ucapan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan sejelek-jelek perkara adalah sesuatu yang diada-adakan, dan setiap sesuatu yang diada-adakan (dalam agama) maka hal itu adalah sesat". Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam : (setiap bid'ah adalah sesat); ungkapan ringkas/simple ini termasuk dalam kategori "jawami'ul kalim" (Himpunan sabda yang amat ringkas/simple namun padat), ungkapan seperti ini hampir mirip dengan sabda beliau yang lain, yaitu yang berbunyi :"barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya maka hal itu adalah ditolak". Setiap sesuatu yang diada-adakan dan mengatasnamakan agama sedangkan tidak ada dasar/asalnya dalam syara' yang mendukung dan bisa dirujuk kepadanya maka hal itu adalah sesat dan agama berlepas diri darinya, baik sesuatu itu berkaitan dengan masalah keyakinan/'aqidah, perbuatan maupun perkataan secara lahir atau bathin. Masalah klasifikasi bid'ah Dalam hal ini muncul beberapa ungkapan dari Salaf yang mengindikasikan istihsan (memandang baik) sebagian bid'ah, sehingga terciptalah suatu asumsi bahwa bida'ah itu terbagi dua. Maka semata-mata maksud mereka adalah bid'ah lughawiyyah (secara bahasa) bukan secara agama/syar'i. Diantara dalil yang sering dipakai oleh orang-orang yang berpendapat demikian adalah perkataan Umar :"jika hal ini (perbuatan ini) adalah bid'ah, maka ia lah sebaik-baik bid'ah". Ucapan ini berkaitan dengan tindakannya mengumpulkan orang-orang dengan seorang imam saja di masjid untuk mengimami shalat dalam bulan Ramadhan. Namun sebenarnya apa yang dikatakan oleh Umar tersebut adalah bid'ah secara bahasa, dan ketika itu beliau seperti disebutkan oleh suatu riwayat, ditegur oleh Ubai bin Ka'ab, dia berkata kepadanya : sesungguhnya apa yang engkau lakukan ini belum pernah ada. Umar menjawab : aku tahu itu, tetapi hal ini adalah baik. Dalam hal ini, Mushannif mengatakan; maksud Umar tersebut adalah bahwa perbuatan ini belum pernah dilakukan seperti ini sebelumnya tetapi akar/asalnya ada dalam syari'at yang dapat dirujuk yaitu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam sangat menganjurkan sekali agar orang-orang shalat malam di bulan Ramadhan sehingga orang-orang pun melakukannya di masjid baik secara jama'ah, berpencar-pencar, atau pun sendiri-sendiri. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat bersama para shahabatnya di bulan Ramadhan dan hal itu dilakukan bukan satu malam saja, kemudian beliau menghentikannya dengan alasan takut menjadi suatu kewajiban bagi mereka nantinya sedangkan mereka tentu tidak akan mampu melakukannya, namun setelah beliau wafat (Umar) melihat hal itu bila dilakukan tidak akan menjadi kewajiban lagi alias alasannya sudah tidak ada sebab Rasulullah telah wafat. Rasulullah juga, seperti banyak riwayat melakukan hal itu terutama di malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Banyak hal yang dilakukan oleh para shahabat yang sebelumnya tidak ada pada zaman Rasul namun hal itu semua memiliki akar/asal yang bisa dirujuk dan mendukungnya dalam syari'at, seperti azan kedua pada hari Jum'at yang dibuat oleh 'Utsman dengan alasan orang-orang saat itu memerlukan hal itu dan hal itu juga disetujui oleh 'Ali . Begitu juga, dengan masalah kodifikasi mushhaf yang semula tidak mau dilakukan oleh Zaid bin Tsabit, dan banyak lagi yang lain. Sebagaimana dikutip oleh al-Hafizh Abu Na'im, bahwa Harmalah bin Yahya mendengar Syafi'i berkata : "Bid'ah terbagi dua; bid'ah mahmudah (yang dipuji) dan bid'ah mazmumah (yang dicela); maka apa yang sesuai dengan sunnah maka ia termasuk yang dipuji sedangkan yang bertentangan dengan sunnah maka ia termasuk yang dicela. Dan beliau berhujjah dengan ucapan Umar :" sebaik-baik bid'ah, adalah ini (perbuatan ini)". Maksud dari ucapan Imam asy-Syafi'i tersebut adalah sebagaimana apa yang disinggung sebelumnya yaitu bahwa bid'ah mazmumah adalah sesuatu yang tidak memiliki akar/asal dari syari'at yang bisa dirujuk dan mendukungnya. Dan bid'ah inilah yang dimaksud ketika hal itu terdapat dalam terminologi Syari'ah. Sedangkan bid'ah mahmudah adalah sesuatu yang bersesuaian dengan sunnah, artinya sesuatu yang memiliki akar/asal dari sunnah yang dapat dijadikan rujukan. Inilah pada dasarnya apa yang dinamakan dengan bid'ah secara bahasa bukan secara syara' karena bersesuaian dengan sunnah. Sehubungan dengan itu, ada riwayat lain dari ucapan Syafi'i yang mendukung interpretasi ini yaitu ucapan beliau : "dan sesuatu yang diada-adakan (muhdatsat) terbagi kepada dua : yang diada-adakan tetapi menyalahi kitabullah, sunnah, atsar atau ijma' dan ini dinamakan (bid'ah) yang sesat, dan yang diada-adakan tetapi ia adalah baik dan tidak ada yang bertentangan dengan perbuatan semacam ini, maka inilah yang dinamakan sebagai (bid'ah) yang tidak dicela itu". Dan memang kemudian, sejarah membuktikan bahwa apa yang disinyalir oleh Rasulullah akan terjadi memang terjadi, diantaranya adalah munculnya Ahlur Ra'yi, al-Mutakallimun, Khawarij, Rawafidh, Murjiah, Ahli Tasawuf dan lain-lain. Demikian pula, terdapat hal-hal yang para ulama tidak berselisih pendapat mengenai apakah ia termasuk bid'ah hasanah hingga harus dirujuk kembali kepada as-Sunnah atau tidak ?, diantaranya adalah masalah penulisan hadits dimana Umar dan sebagian shahabat melarang hal itu, sementara yang lainnya memberikan keringanan dengan berargumentasi kepada hadits-hadits. Pada masa ini dimana keilmuan orang sangat jauh dari ilmu para Salaf, maka sudah semestinya dilakukan suatu pengecekan dan kaidah khusus terhadap hal-hal yang memang berasal dari mereka hingga dapat dibedakan antara ilmu yang berkembang pada masa mereka dengan masa sesudah mereka. Mari kita renungi ucapan Ibnu Mas'ud yang diucapkannya ketika pada masa al-Khulafaur Rasyidun : "Sesungguhnya kalian hari ini masih hidup dalam kondisi yang sesuai dengan fithrah, sungguh kalian nanti akan mengada-ada (melakukan suatu hal yang baru dalam urusan agama) dan akan dibuat pula (oleh orang lain) buat kalian hal semacam itu ; jika kalian melihat sesuatu yang diada-adakan tersebut (muhdatsah), maka hendaklah kalian berpegang teguh kepada petunjuk yang pertama (Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabat). Intisari Hadits Diantara cirri wejangan/khuthbah Rasulullah adalah ringkas/simple dan padat yang dinamakan dengan "jawami'il kalim". Rasulullah telah mengingatkan umatnya akan adanya perselisihan pendapat diantara mereka, oleh karena itu beliau memerintahkan mereka agar berpegang teguh kepada sunnahnya dan sunnah al-Khulafaur Rasyidun setelahnya. Umat Islam diperintahkan agar loyal terhadap pemimpinnya, meskipun harus dipimpin oleh seorang budak. Rasulullah melarang kita melakukan suatu perbuatan dalam urusan agama yang tidak pernah beliau ataupun para shahabatnya melakukannya dan bahwa hal itu adalah mengada-ada dalam agama atau disebut dengan bid'ah. Semua bid'ah adalah sesat, dan apa yang disebut dengan bid'ah terbagi-bagi adalah tidak benar dan kalaupun ada maka yang dimaksud adalah bid'ah secara bahasa. Wallâhu a'lam. (Disarikan dari kitab "Jami'ul 'Ulum wal hikam, karya Syaikh Ibnu Rajab al-Hanbali, II/ 109-133, hadits ke-28). (Rabu, 13/6/2001= 21/3/1422)

 

 

Fri, 21 Jun 2019 @16:10


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar